Akibat Perambahan Lahan Liar, Lereng Gunung Prau di Batang Rusak dan Gundul

BATANGPOS.COM, BATANG – Akibat alih fungsi lahan, kondisi hutan lereng Gunung Prau di wilayah Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang banyak yang berubah. Beberapa di antaranya yang semula hutan lindung dan hutan produksi, justru dijadikan sebagai areal lahan pertanian.

Selain berdampak pada kerusakan hutan, juga terhadap keberadaaan habitat dan kelestarian alam hutan, serta ekosistem di Lereng Gunung Prau. Seperti satwa burung, kera bulu hitam dan abu-abu, rusa, dan sebagainya yang mulai jarang dilihat.

Tak hanya itu, lahan hutan dan perbukitan banyak yang gundul. Wilayah lereng Gunung Prau juga kerap mengalami bencana alam, baik bencana tanah longsor maupun kebakaran hutan.

Belum lagi, alih fungsi hutan justru diduga dilakukan penggarapan lahan secara liar oleh sejumlah orang yang tidak bertangung jawab.

Salah seorang pemerhati kondisi hutan lereng Gunung Prau, Subur menyebut, jika kerusakan hutan tersebut diakibatkan oleh ulah tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Warga Desa Deles, Kecamatan Bawang itu menduga, hal ini terjadi karena tak sedikit area lahan hutan yang digarap sebagai lahan pertanian secara liar.

Untuk itu, ia bersama komunitas pecinta alam dan kelestarian lingkungan, menggelar aksi penyelamatan hutan lereng Gunung Prau, Sabtu-Minggu (4-5/6/2022).

Menurut Subur, ada sekitar 17 hektare, bahkan bisa lebih, lahan yang rusak akibat alih fungsi yang tidak sesuai aturannya. Seperti yang ada di petak 72.

“Kami sangat prihatin dengan kondisi ini. Selain itu, perambahan lahan hutan secara liar juga sudah meluas ke arah selatan dan barat. Padahal, di seberang barat bukit jalan menuju ke Dieng, Banjarnegara yang viral disebut jalan tol kayangan tersebut, adalah jurang dengan kedalaman ratusan meter,” ungkapnya.

Ia menyebut, untuk mencegah hal ini, seharusnya dilakukan aksi peduli melalui gerakan reboisasi berkelanjutan, serta pengawasan yang melibatkan petugas setempat dana merangkul berbagai komunitas. “Sehingga keberadaan hutan di lereng Gunung Prau ini akan terus terjaga kelestarianya,” imbuh Subur.

Ia juga mengungkapkan, hampir tiap tahun Lereng Gunung Prau kerap mengalami bencana alam akibat banyaknya bukit dan lereng hutan yang gundul. Karena tidak adanya tanaman keras sebagai penyangga kondisi geografi tanah. Subur juga menyebut, di tahun 2021 lalu telah terjadi bencana tanah longsor yang sangat besar.

“Tidak adanya resapan air atau tanaman yang bisa menampung dan menahan resapan air, sehingga kondisi lahan menjadi rusak akibat dampak obat-obatan kimia yang berlebihan,” ungkapnya.

Semetara itu, Adm KPH Pekalongan Timur, Untoro Tri Kurniawan menyebut, wilayah Perhutani Pekalongan Timur memiliki luasan sekitar 20 ribu hektare lahan, salah satunya di wilayah Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang tersebut. Baik itu hutan lindung maupun hutan produksi, menurutnya ada beberapa lokasi yang perlu dilakukan reboisaasi. Karena kondisi hutan lereng Gunung Prau rusak akibat kebakaran dan bencana lainnya.

“Kami sangat mendukung peran serta dari para komunitas pecinta alam, ormas, dan unsur lainnya yang terlibat dalam aksi penyelamatan hutan ini. Kita berharap kegiatan terus berlanjut demi menjaga hutan tetap lestari hingga anak cucu,” ucapnya, Minggu (5/6/2022).

Salah seorang warga Dusun Sigemplong, Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Faizin menegaskan, kondisi lahan lereng hutan Gunung Prau banyak yang beralih fungsi tidak sesuai dengan peruntukan dan aturan.

“Dulu banyak tanaman keras yang lestari dan terjaga, tapi sekarang banyak beralih fungsi menjadi area pertanian yang digarap secara liar oleh sejumlah orang,” ujarnya.(HS)