Banjir Rob Masih Menggenangi Rumah, Warga Memilih Tidur di Perahu

BATANGPOS.COM, KENDAL – Meski terdampak banjir rob atau air laut pasang, warga kampung nelayan di Kelurahan Karangsari dan Bandengan lebih memilih untuk tidak mengungsi di tempat lain.

Dari dua kelurahan ini banjir rob terparah terjadi di Kampung Gisik Karangsari. Air banjir rob menggenangi seluruh jalan dan gang-gang di kampung ini. Tinggi air rob bervariasi, antara 50 cm hingga mencapai satu meter.

Tak hanya itu, air banjir rob juga masuk ke dalam rumah, menggenangi sebagian besar rumah warga Kampung Gisik Karangsari, sehingga mengganggu aktivitas warga.

Namun demikian, sebagian besar warga tetap memilih bertahan di rumahnya, dan ada yang tidur di mushala sekitar daripada harus mengungsi ke tempat lain.

Bahkan beberapa warga yang kesehariannya sebagai nelayan lebih memilih tidur di atas perahu yang setiap hari digunakan untuk melaut dan menangkap ikan.

Salah seorang warga Kampung Gisik Kelurahan Karangsari, Santoso (35) mengaku, banjir rob kali ini merupakan banjir terbesar yang pernah terjadi dalam kurun waktu puluhan tahun.

“Rumah saya tergenang banjir sudah tiga hari. Warga di sini belum ada yang mengungsi. Warga memilih tidur di perahu dan sebagian lainnya tidur di rumah saudaranya yang bangunannya tinggi sehingga tidak kemasukan air rob,” ungkapnya, Rabu (25/5/2022).

Senada diungkapkan Mundrikah (27), ia bersama ibu, suami dan anak-anaknya memilih tidur di perahu daripada ke tempat pengungsian.

Sudah tiga hari ia bersama keluarga memilih untuk tidur di perahu. Itu karena rumahnya terendam air rob. Ketinggian airnya mencapai 30 cm saat pagi hari. Namun, saat banjir rob datang mencapai pinggang orang dewasa.

Mundrikah menambatkan perahunya di teras rumah. Dia juga memboyong kasur, bantal, serta beberapa alat makan.

Kondisi itu membuat anaknya terpaksa libur sekolah. Mundrikah juga merasa baik-baik saja berada di atas perahu. Menurutnya, tak banyak aktivitas yang dilakukan.

Ketika air rob mulai datang, Mundrikah dan keluarganya sudah berada di perahu. Hingga kini, belum ada anggota keluarganya yang terkena gatal-gatal.

“Alhamdulillah, setiap pagi dan sore kami sekeluarga juga dapat kiriman makanan dari petugas,” ungkapnya.

Sementara itu menurut Ina, seorang ibu rumah tangga, banjir rob kali ini adalah banjir rob terbesar selama bertahun-tahun lamanya ia tinggal. Ia mengaku menumpang di rumah tetangganya, karena rumahnya terendam banjir.

“Rob ini memang yang terbesar sejak saya tinggal di sini. Saya sampai menumpang di rumah tetangga karena rumah saya terendam banjir,” ujarnya.

Bukan hanya tempat tinggal, dampak banjir rob yang diakibatkan cuaca buruk juga menyebabkan para nelayan di kampung ini tidak bisa melaut lebih dari sepekan.

“Terakhir melaut kami hanya mendapatkan hasil Rp 20 ribu. Tangkapan ikannya lagi sepi,” kata Darmanto yang kesehariannya sebagai seorang nelayan. (HS-06).