Kendal  

Cerita Warga Terhadap DK Terduga Teroris di Kendal, Mulai Tak Pernah ke Masjid hingga Tanya ke Ustaz Apa Itu Pancasila

KENDAL, BATANGPOS.COM – Kepala Desa Tabet, Supriyadi, menyebut dirinya tidak tahu jika salah satu warganya yakni DK (24) ditangkap Densus 88 Antiteror. Justru, ia baru tahu setelah dihubungi oleh polisi dari Polres Kendal, untuk ikut menyaksikan penggeledahan rumah DK paska penangkapan.

Supriyadi bersama salah satu perangkatnya dan Kadus Krajan, datang ke lokasi untuk ikut menyaksikan penggeledahan di rumah orang tua DK, dimana DK tinggal berdomisli di rumah tersebut.

“Saat penggeledahan, saya hanya diminta untuk ikut menyaksikan saja. Itu pun paska penangkapan, bahkan saya sendiri tidak tahu kalau ia (DK) ditangkap,” ujar Supriyadi, Jumat (25/3/2022).

Setelah adanya penangkapan salah satu warganya, Supriyadi mengumpulkan semua tokoh masyarakat desa, agar ikut mengawasi warga desa Tabet. “Kasihan orang tua DK. Sampai saat ini masih shock, meskipun sudah bisa bersosialisasi,” tuturnya.

Diketahui, DK (24), merupakan salah satu dari 5 terduga teroris yang ditangkap Densus 88 Antiteror beberapa hari yang lalu dirumahnya di Dusun Krajan, RT 003, RW 002, Desa Tabet, Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal Jawa Tengah.

Sementara, Kepala Dusun Krajan Ponidi menceritakan bahwa DK adalah anak seorang petani yang setiap hari membantu orang tuanya di sawah dan mencari rumput untuk makan kambingnya.

Ditangkapnya DK oleh Densus 88 membuat gempar warga dusun Krajan. Bagaimana tidak, sebab remaja tersebut dikenal sebagai sosok yang pendiam, jarang keluar rumah, dan tidak bicara jika tidak diajak bicara.

“Berbeda dengan kedua orang tuanya yang lebih suka bersosialisasi ke masyarakat. Bapaknya sering ikut tahlilan, dan aktif ke masjid,” terang Ponidi.

Dijelaskan, DK adalah anak tunggal dari pasangan suami istri A dan M. DK, lulusan salah satu SMK di Limbangan dan orang tuanya bekerja sebagai petani.  Kebiasaan dia, sebelum pandemi Covid 19 , latihan memanah di samping rumahnya.

“DK kalau latihan memanah di samping rumah. Harga panahnya saja informasinya Rp 3 juta rupiah. Ia minta dibelikan orang tuanya, dengan alasan mau ikut lomba memanah,” jelasnya.

Ponidi juga menyebut jika DK jarang ikut berjamaah di masjid, termasuk sholat jumat. “Dulu DK, pernah ikut pengajian di masjid dan bertanya kepada ustadz, Pancasila itu apa, dan apa kegunaan sumpah jabatan. Begitu pertanyaannya dijawab seperti pada umumnya. DK tidak pernah ke masjid lagi. Tidak tahu kenapa,” imbuh Ponidi.

Seperti diberitakan sebelumnya, Densus 88 Antiteror meringkus lima orang tersangka teroris lainnya yang terlibat dengan kelompok Daulah Islamiah Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Kelima tersangka itu berinisial MR, HP, MI, RBS, dan DK. Mereka diringkus sejak 9 hingga 15 Maret 2022 di lokasi berbeda, yakni di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Jakarta Barat, Lampung, dan Tangerang Selatan.

Mereka terlibat dan tergabung di grup Annajiyah Media Centre yang bertugas membuat dan menyebarkan poster-poster digital yang berisi propaganda yang membangkitkan semangat jihad amaliyah.