Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan Bersama Persatuan Ahli Gizi Dorong Penurunan Angka Stunting

 

BATANGPOS.COM, PEKALONGAN – Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan, bersama Persatuan Ahli Gizi Kabupaten Pekalongan (Persagi), terus melakukan sosialisasi, sebagai upaya menurunkan angka stunting di Kota Santri.

Anggota Persagi Kabupaten Pekalongan, Marita Lusiana AMG mengatakan Pemerintah Pusat, menargetkan dapat menurunkan angka stunting sebesar 14 persen pada 2024.

Adapun salah satu upaya pencegahan yang dilakukan, adalah memastikan bahwa anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup, untuk pertumbuhannya.

Dengan mengutip hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, tentang berbagai permasalahan kekurangan gizi di Indonesia, dia mengatakan bahwa 10,2 persen bayi di Indonesia, lahir dengan berat badan rendah, atau kurang dari 2.500 gram.

Selain itu 19,6 persen balita di Indonesia, memiliki berat badan yang tidak sesuai dengan usianya. Sebanyak 37,2 persen balita di Indonesia, juga memiliki tinggi badan yang tidak sesuai dengan usianya.

Kemudian, berdasarkan Laporan Global Nutrition Report 2014, Indonesia termasuk dalam 17 negara, dengan tiga masalah gizi terjelek, di antara 117 negara-negara di dunia.

“Ada 11,9 persen balita dengan berat badan kurang, 37,2 persen balita pendek, 12,1 persen balita kurus, dan 28,9 persen kegemukan pada penduduk lebih dari 18 tahun. Kondisi pertumbuhan pendek dan kurus pada balita tersebut, bisa menghambat kemampuan kognitif (intelegensia) dan motorik anak,” kata Marita, seperti dirilis pekalongankab.go.id.

Marita mengatakan telah melakukan beberapa upaya untuk menekan kasus stunting tersebut. Salah satunya bersinergi dengan lintas sektor, yakni Dinas Kesehatan, pemerintah daerah, para stakeholder terkait, dan masyarakat, membentuk 10 desa lokasi fokus stunting (lokus stunting), yang tersebar di Kabupaten Pekalongan.

Di setiap desa lokus stunting, dilaksanakan rembug stunting, aksi konfergensi stunting, pembentukan kampung gizi, dan lainnya.

Marita menambahkan dalam penanganan kasus stunting ini, pihaknya juga memberdayakan keberadaan kader posyandu, memberikan tablet tambah darah untuk remaja di sekolah-sekolah, memberikan penyuluhan gizi kepada masyarakat dan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

“Stunting harus dicegah sejak dini, karena ke depan bisa berakibat pada SDM rendah. Karena kemampuan kognitif rendah. Jadi target kita saat ini, yang paling awal adalah pendataan. Sebisa mungkin kita validasi apakah data stunting yang kita peroleh sudah benar. Kalo sudah benar, kita release datanya jumlahnya. dan dari pemerintah atau Dinas terkait nanti bisa menyelenggarakan program-program terkait untuk pencegahan stunting, terutama untuk beberapa aksi konvergensi pencegahan stunting itu sendiri,” ungkap Marita.

Marita berharap ke depan persentase angka stunting di Kabupaten Pekalongan kurang dari 14 persen, sesuai dengan target yang ditentukan. (HS-08)