Dinperpa Kota Pekalongan Terjunkan Tim Khusus Pantau Penjualan Hewan Kurban

 

BATANGPOS.COM, PEKALONGAN – Dinas Pertanian dan Pangan (Dinperpa) Kota Pekalongan, menerjunkan tim khusus, di empat kecamatan untuk memantau kesehatan ternak, termasuk yang akan dijadikan hewan kurban.

Di dalam tim beranggotakan delapan orang itu, terdapat paramedik dan medik veteriner, yang akan bertugas memantau kesehatan hewan ternak, serta ikut mencegah penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK).

Hal itu disampaikan Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinperpa Kota Pekalongan, Ilena Palupi saat memantau dan mengevaluasi tempat penjualan hewan kurban di wilayah Setono, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan, Selasa (5/7/2022).

Dia menjelaskan, tim akan memeriksa Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dari daerah asal ternak tersebut. Tim juga mengedukasi para penjual hewan ternak, agar selalu bersikap jujur dalam bertransaksi. Mereka harus menjelaskan kondisi terkini hewan kurban yang dijual.

“Fakta di lapangan, biasanya tidak disertai SKKH, padahal kami selalu mengedukasi ke pedagang hewan kurban bahwa, sesuai aturan lalu lintas hewan ternak antarkabupaten, antarkota, dan antarprovinsi, hewan ternak dilengkapi SKKH dari daerah asal,” kata Ilena, seperti dirilis pekalongankota.go.id.

Menurutnya, untuk mendapatkan SKKH cukup mudah, yakni dengan menghubungi Kantor Dinas Peternakan di daerah asal hewan.

Lebih lanjut Ilena menjelaskan, masyarakat perlu cermat dalam memilih hewan kurban, yakni harus memenuhi kriteria fisik dan kriteria umur.

Untuk kriteria fisik, hewan kurban harus sehat, tidak pincang, tidak cacat, dan tidak sedang bunting.

“Masyarakat yang akan membeli hewan kurban, tolong diteliti dan dicek. Jangan takut memegang hewan kurban. Periksa dan pastikan hewan tersebut sehat, tidak buta, tidak pincang, tidak cacat, dan tidak bunting,” kata dia.

Masyarakat juga harus mengecek usia calon hewan kurban yang hendak dibeli, agar sesuai dengan ketentuan.

“Perhatikan umur hewan yang layak dijadikan hewan kurban. Pilihlah hewan kurban sesuai syariat, karena ibadah kurban adalah ibadah yang harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan sesuai syarat sah,” tegasnya.

Ilena menambahkan, jika dilihat dari susunan giginya, untuk  hewan kambing atau domba, dipastikan gigi depannya sudah tanggal 1 dan ganti sepasang gigi, menunjukkan bahwa hewan tersebut sudah berumur 1-2 tahun.

“Sementara, untuk sapi atau kerbau, gigi seri permanen berjumlah sepasang ditaksir umurnya sudah memasuki 2 tahun, dan gigi seri permanen berjumlah 2 pasang, maka ditaksir berumur lebih dari 2 tahun atau 24-30 bulan,” imbuh Ilena.

Salah satu penjual hewan kurban di daerah Setono, Umar Damiri, mengatakan untuk tahun ini penjualan kambing miliknya meningkat, dibandingkan dalam dua tahun saat pandemi Covid-19 melanda.

Adapun untuk harga kambing yang dijual di lapaknya berkisar Rp 2,2 juta hingga Rp 3 juta.

Kambing-kambing yang diajual diperoleh dari daerah-daerah sekitar Kota Pekalongan, seperti wilayah Bandar, Batang, dan Kajen Kabupaten Pekalongan.

Menurutnya, untuk tahun ini konsumen cenderung memilih kambing untuk hewan kurban. Mereka menilai, dibandingkan sapi, kambing lebih tahan terhadap PMK. Harga kambing juga lebih murah dibandingkan sapi.

“Tahun ini di lapak kami, Alhamdulillah sudah terjual laku 90 kambing. Untuk kambing jantan memang harganya jauh lebih mahal daripada kambing betina, bisa sampai 50 persen. Itu pun harus pesan terlebih dahulu,” kata Umar. (HS-08)