Gunakan Oven, Produsen Jamur Crispy di Sragen Ini Hemat Minyak Goreng hingga 30 Persen

 

BATANGPOS.COM, SRAGEN – Harga minyak goreng yang sempat melambung beberapa waktu lalu, tak membuat Anik Purwanti (40), pelaku UMKM pembuatan jamur crispy khas Sragen mundur.

Warga Dukuh Kedungpanas RT 018/RW 009, Desa Ngarum, Ngrampal, Sragen ini pun berinovasi untuk mengurangi penggunaan minyak goreng, sekaligus meningkatkan kualitas produknya.

Hasilnya, jamur renyah buatan industri rumah tangga itu, kini bukan hanya dipasarkan di toko-toko swalayan di Solo Raya, bahkan sudah merambah pasar Hongkong.

Dibantu Giyanto, suaminya, Anik memproduksi jamur renyah bermerk Ducrija atau Dunia Crispy Jamur itu, dengan memadukan teknik menggoreng dan memanggang menggunakan oven.

Anik menuturkan usaha yang dia mulai sejak 2010 silam ini, semula menggunakan minyak goreng dalam jumlah banyak. Selain tidak efisien, produk yang dihasilkannya pun tidak bisa bertahan lama.

Ketika harga minyak goreng melambung beberapa waktu lalu, dia pun merasakan dampaknya.

Dia pun kemudian mencari cara, agar dapat mengurangi penggunaan minyak goreng. Dari berbagai percobaan yang dilakukan, dia akhirnya menemukan cara untuk memadukan teknik menggoreng dan memanggang.

“Untuk menekan biaya produksi, kami mencoba menggunakan teknik oven, untuk pematangan produknya. Ternyata teknik itu bisa menghemat minyak goreng 30 persen atau setara dengan 4,8 liter per produksi,” kata Anik, seperti dirilis website resmi Pemkab Sragen, sragenkab.go.id.

Dia menuturkan, dalam proses produksi camilan tersebut, jamur yang sudah dibumbui dan diberi tepung, kemudian digoreng dengan minyak panas, menggunakan panci alumunium.

Setelah setengah matang, jamur ditiriskan untuk kemudian dimasukkan ke dalam oven.

Dengan teknik ini, jamur crispy yang dihasilkan ternyata lebih renyah dan lebih tahan lama, bahkan sampai enam bulan. Biasanya dengan teknik penggorengan biasa hanya bisa bertahan paling lama tiga bulan.

“Setiap kali produksi, butuh 16 liter minyak goreng untuk 2-3 hari. Sekarang, jadi 5-6 hari saja. Kami menemukan teknik itu secara otodidak karena memikirkan keberlangsungan produksi. Selain minyak sawit, saya juga menggunakan minyak kelapa untuk menggoreng. Tepung yang saya gunakan juga menggunakan tepung mokaf tanpa penyedap rasa,” paparnya.

Suami Anik, Giyanto menambahkan, dengan teknik baru, selain menghemat, waktu penggorengan pun jadi lebih singkat.

“Biasanya lama penggorengan selama 30 menit. Sekarang pakai teknik baru, lama penggorengan hanya 15-20 menit kemudian dilanjutkan ke oven sampai matang,” ujarnya.

Jamur crispy produksi pasangan suami istri ini diberi nama Ducrija atau dunia crispy jamur. Produk jamur crispy itu sudah dikemas dengan kemasan yang cantik dan siap edar di minimarket.

“Harga jualnya mulai Rp 12.000 per kemasan untuk wilayah Sragen dan Rp 15.000 per kemasan di Soloraya,” urainya.

Selain di dua wilayah tersebut, Ducrija juga sudah menembus pasar Hongkong.

Saat ini, Anik punya dua tenaga kerja yang membantu memproduksi jamur crispy. Selain jamur crispy, Anik juga memproduksi bandeng presto, bawang goreng, pentol jamur, dan kripik usus. (HS-08)