Jelang Idul Adha, Dispertan Kendal Lakukan Monitoring Hewan Kurban ke Sejumlah Pedagang

BATANGPOS.COM, KENDAL – Mendekati hari raya kurban 1443 H, Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal, melalui Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, melakukan monitoring dan evaluasi ke sejumlah pedagang hewan kurban, Kamis (7/7/2022).

Sasaran yang dituju tim yang dipimpin langsung Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal, Pandu Rapriat Ragajati tersebut meliputi Kecamatan Patebon, Kangkung, Weleri dan Rowosari.

Saat mengunjungi pedagang sapi di Dusun Wonokerto Desa Sendangdawung Kecamatan Kangkung Pandu menjelaskan, dari hasil pemeriksaan di beberapa tempat, seluruh hewan dinyatakan sehat.

“Alhamdulillah dari seluruh pengepul atau pedagang sapi di beberapa tempat yang kita kunjungi dan lakukan monitoring kondisinya sehat semua,” terangnya.

Pandu memaparkan, dari tiga tempat yang dikunjungi, terhitung ada beberapa ekor sapi yang dipantau. Yakni di Desa Purwokerto Patebon ada 13 ekor, di Desa Tanjungmojo Kangkung ada 27 ekor dan di Desa Sendangdawung Kangkung ada 14 ekor.

Dijelaskan, untuk penjualan hewan korban ke luar Kendal, harus menyertakan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) yang akan dikeluarkan pihaknya, setelah ada surat keterangan dari penerima.

“Untuk menjamin kesehatan hewan korban ini kita sertai dengan SKKH dan pada saat hari H akan kita lakukan pemeriksaan pemotongan hewan kurban, oleh tim yang sudah kita bentuk,” jelas Pandu.

Tim pemantau pemotongan hewan korban yang berjumlah 36 personel baik medis maupun non para medis ini nantinya, akan bekerja mulai dua hari menjelang lebaran kurban (H-2) dan dua hari setelah lebaran kurban (H+2) di seluruh wilayah.

“Kalau berdasarkan tahun sebelumnya ada 1.800 titik pemotongan hewan di Kabupaten Kendal yang akan diperiksa oleh petugas kami, dengan personil medis dan non paramedis yang jumlahnya sangat terbatas,” ungkapnya.

Pandu juga meminta kerjasama semua pihak, baik dari kecamatan maupun kelurahan, untuk ikut memberikan pemahaman kepada peternak, pedagang maupun kepada calon yang berkurban.

“Ya harapannya ada kerjasama dari pemegang otoritas wilayah, untuk bisa menyampaikan kepada peternak dan pengepul atau pedagang, juga kepada calon yang akan berkurban, tentang PMK itu seperti dan penanganannya, hingga saat berkurban,” paparnya.

Sementara itu, pedagang sapi di Desa Tanjungmojo RT 1 RW 3, Kecamatan Kangkung, Anang Suharmadi mengaku, selama ini dirinya menawarkan sapi-sapinya melalui media sosial online.

“Saat ini ada 27 ekor sapi di kandang saya dan tinggal dua ekor yang belum laku. Alhamdulillah kondisinya sehat, karena rutin ada pemeriksaan dan pengecekan dari dokter dinas,” terangnya.

Dijelaskan, rata-rata harga sapi yang ia jual dan sudah laku, untuk satu ekor berkisar Rp 25 juta, Rp 30 juta, bahkan ada yang mencapai Rp 60 juta. Untuk pembeli paling banyak dari Semarang, bahkan ada salah satu SPBU Semarang membeli tujuh ekor sapi sekaligus.

“Caranya dengan mengirimkan video kondisi sapi-sapi, dengan disertakan estimasi bobot. Pembelinya paling jauh di Semarang. Bahkan pak Bupati membeli satu ekor sapi dengan bobot hampir satu ton, yang harganya Rp 60 juta,” ujar Anang. (HS-06)