Lebaran Ketupat, Warga Berbondong-bondong Bawa Makanan dan Berdoa Bersama di Masjid

BATANGPOS.COM, KENDAL – Pada tradisi lebaran ketupat, warga berbondong-bondong datang ke masjid dan musala dengan membawa aneka makanan, untuk berdoa bersama sekaligus makan bersama.

Pada umumnya, hari raya lebaran ketupat 2022 diagendakan satu minggu usai lebaran Idul Fitri yang jatuh pada 1 Syawal 1443 Hijriah.

Seperti diketahui, hasil sidang isbat dalam menentukan hari raya Idul Fitri 2022 sudah ditentukan oleh Kemenag pada tanggal 2 Mei 2022.

Lebaran ketupat memang identik dengan daun kelapa muda yang dibentuk segi empat kemudian diisi beras yang nantinya dimasak menjadi hidangan khas perayaan Idul Fitri.

Makna Kupat-lepet tidak terlepas dari arti keberadaan janur atau daun kelapa muda. Ternyata, makna Janur diambil dari bahasa Arab Ja’a nur (telah datang cahaya).

Sementara, makna bentuk fisik kupat berbentuk segi empat memiliki makna simbolis dari hati manusia. Saat seseorang sudah mengakui kesalahan maka hatinya seperti kupat yang terbelah.

Tentu isinya putih bersih dan hati tanpa memiliki rasa iri maupun dengki. Hal itu karena hatinya dibungkus oleh cahaya yakni Ja’a nur.

Sementara, makna lepet adalah silep kang rapet yang maksudnya mari kita kubur atau tutup rapat (Mangga dipun silep ingkang rapet).

Maksudnya usai mengakui kesalahan dengan meminta maaf, maka kesalahan tersebut dimaafkan. Jangan mengulang kesalahan lagi agar tali persaudaraan semakin erat

Tradisi lebaran ketupat di Kabupaten Kendal, khususnya di wilayah Kaliwungu, Brangsong dan sekitarnya digelar, bertepatan dengan meninggalnya imam besar masjid kaliwungu, Kiai Asy’ari atau yang biasa di sebut Kiai Guru.

Seperti yang dilakukan warga di  Brangsong dan Kaliwungu, mereka menggelar lebaran ketupat di masing-masing masjid dan musala di sekitar tempat tinggal warga, Minggu (9/5/2022).

Tradisi ini sama meriahnya dengan lebaran idul fitri, namun yang unik, warga membawa jajan, makanan ketupat, lontong dan sayur.

Ada yang membawa nasi beserta lauk pauk, juga ada yang membawa buah-buahan, bahkan ada juga yang menyiapkan ketupat lengkap dengan sayur opornya.

Mereka membawa ke masjid atau musala sembari berdoa bersama, mendoakan ulama dan kyai yang dahulu menyebarkan islam di Kabupaten Kendal dan sekitarnya .

Tradisi yang dilakukan hari ke delapan  setelah Idul Fitri ini, sering disebut dengan lebaran ketupat. kemeriahannya hampir sama dengan perayaan Idul Fitri, dengan mengenakan baju baru warga berkumpul di mushola dan masjid, setelah sholat subuh.

Seperti halnya yang dilakukan warga di Desa Brangsong, Kecamatan Brangsong. Warga berbondong bondong datanf ke masjid atau musala, sambil membawa makanan.

Salah satunya di Musala Baitul Muslimin, warga berdoa dan menggelar tahlil, dan setelah selesai makan bersama sama dengan hidangan yang sudah dibawa dari rumah.

Takmir Musala Baitul Muslimin, Ustaz Faizin menjelaskan, tradisi lebaran ketupat ini merupakan  bentuk  kebersamaan, dan syukur kepada Allah SWT.

“Dan juga sebagai rasa syukur sudah bisa menjalankan puasa ramadan dan puasa syawal selama  tujuh hari,” jelasnya.

Faizin juga mengungkapkan, tradisi lebaran ketupat atau syawalan sebenarnya adalah Haul Kiai Asy’ari yang merupakan penyebar agama islam di Kabupaten Kendal, dan sudah turun temurun.

“Tradisi ini banyak dilakukan warga Kaliwungu, Brangsong dan sekitarnya. Sebab makam para wali, kiai dan ulama banyak yang ada di Jabal Desa Protomulyo Kaliwungu Selatan,” pungkasnya. (HS-06).