Menyebar di Pusat Penjualan, Kasus PMK di Kendal Meningkat Tajam jadi 177 Hewan Ternak

BATANGPOS.COM, KENDAL – Kasus hewan ternak yang terpapar positif Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di wilayah Kabupaten Kendal meningkat tajam. Kasus yang ditemukan terutama pada ternak sapi.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal, pada tanggal 27 Mei 2022, ada 40 hewan yang terpapar. Dengan rincian 31 ekor sapi dan sembilan ekor kerbau. Daerah penyebaran di lima kecamatan, yakni di Kecamatan Boja, Singorojo, Limbangan, Kangkung dan Sukorejo.

Sedangkan data pada hari Rabu (1/6/2022) meningkat menjadi total ada 177 ekor ternak yang terpapar PMK. Dengan rincian, 168 ekor sapi dan sembilan ekor kerbau dan penyebaran kasusnya juga bertambah di enam kecamatan, yakni Kecamatan Patean, Pageruyung, Plantungan, Patebon, Cepiring, dan Gemuh.

Sehingga total daerah penyebaran PMK di Kabupaten Kendal menjadi 11 kecamatan.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kendal, Pandu Rapriat Rogodjati mengatakan, pusat penyebarannya terjadi di pusat penjualan hewan.

“Data kemarin Rabu (1/6/2022) total ada 177 hewan ternak terpapar PMK. Berdasarkan pengamatan, penyebab meluasnya kasus PMK, karena para pengepul masih aktif mendatangkan sapi dari luar daerah Kendal,” terangnya, Kamis (2/6/2022).

Melihat hal tersebut, Pandu meminta kepada para pedagang atau pengepul, untuk sementara tidak mendatangkan sapi dari luar daerah Kendal, paling tidak selama dua pekan atau 14 hari ke depan.

“Justru penularan itu kebanyakan dari pedagang yang mendatangkan sapi dari luar Kendal.

“Maka tolonglah untuk tidak usah kulakan, paling tidak sampai dengan 14 hari ke depan, setelah masa inkubasi virus selesai,” ungkapnya.

Pandu juga mengimbau, supaya pedagang dan peternak juga harus selalu menjaga kebersihan kandang dengan melakukan penyemprotan desinfektan.

Selain itu, juga harus menjaga kebersihan diri, dengan mandi dan berganti pakaian setelah pulang dari pasar hewan. Pasalnya, penyebaran virus PMK bisa terbawa melalui pakaian yang dikenakan.

“Penyebaran virus ini bisa melalui udara, kemudian menempel di badan atau pakaian, maka setelah pulang dari pasar hewan, harus langsung mandi dan ganti pakaian, supaya tidak menularkan virus ke hewan ternak sapinya,” harap Pandu.

Dikatakan, pemilik sapi bisa melakukan penyembuhan secara mandiri, dengan memberikan obat, vitamin dan ramuan herbal, untuk menjaga imunitas tubuh hewan ternak sapi.

Sehingga, lanjutnya, paling tidak ada penyemprotan desinfektan dengan ramuan-ramuan dari jenis-jenis tanaman. Baik untuk penyemprotan-penyemprotan maupun suplemen kepada ternak tersebut.

“Sudah kami sosialisasi untuk penanganan secara mandiri, paling tidak ada penyemprotan-penyemprotan desinfektan dengan ramuan-ramuan,” pungkas Pandu. (HS-06).