Pasokan Sayuran di Jateng Tersendat karena Cuaca Ekstrem, Bikin Harga Melambung Tinggi

BATANGPOS.COM, SEMARANG – Pasokan sayuran di sejumlah wilayah Jawa Tengah menjadi tersendat karena perubahan cuaca yang ekstrem. Akibatnya, banyak masyarakat dan pedagang mengeluhkan harga sayuran yang mendadak melambung tinggi.

Pantauan sejak sepekan terakhir di pasar pagi kompleks Pasar Johar Jalan Kauman Kota Semarang, harga dari berbagai jenis sayuran sudah melambung tinggi hingga pedagang dibuat pusing.

Harga kubis saat ini dipatok Rp. 12 ribu per kilogram. Nur Kasanah, seorang warga Semarang Utara kaget saat tahu harga wortel, daun seledri dan sejenisnya naik drastis ketimbang kondisi normal.

“Biasanya beli sop-sopan dikasih kubis, tapi ini berhubung kubisnya mahal, jadinya saya beli sayuran seadanya aja,” kata Nur Jumat (3/6/2022).

Tak hanya itu, ia mengatakan harga kentang, bayam dan cabai juga ikut bertambah mahal. Padahal, ibu satu anak ini biasanya rutin membuat sayur dengan harga yang terjangkau.

Terpantau juga sejumlah pedagang mengaku naiknya harga sayuran disebabkan pasokan dari para petani yang sangat terbatas.
Wijinah, yang juga pedagang di pasar pagi kompleks Pasar Johar Jalan Kauman menyebut pasokan yang tersendat karena daerah Ambarawa dan Temanggung kerap dilanda hujan yang lebat.

“Sayurannya berkurang drastis. Ya jadinya apa-apa jadi mahal semua,” paparnya.

Sedangkan di Kampung Karangrejo Timur, Kelurahan Jatingaleh, Kecamatan Banyumanik, Semarang sejumlah warga juga mengeluhkan kondisi yang serupa.

Jovita Nugroho, seorang ibu dua anak mengeluhkan sayuran yang dijual oleh pedagang keliling langgananya kini banyak yang busuk.

“Biasanya kan bakulnya ambilnya dari Sumowono. Nah, karena sekarang kan sering hujan deras, dimana-mana hujan gak menentu, sayuran yang dijual juga sedikit. Kalaupun ada, banyak sayuran yang ukurannya kecil-kecil,” keluhnya.

Sementara itu, Kepala Disperindag Jateng, Arief Sambodo mengatakan mahalnya harga sayuran karena beberapa sentra penghasil sayuran di Jateng sedang mengalami cuaca ekstrem. Ia juga mengakui bahwa saat ini pasokan sayuran ke pedagang mengalami ketersendatan.

“Pada dasarnya sayuran tidak termasuk kami pantau, karena pemantauan sebatas pada bahan pokok (bapok). Sedangkan sayuran bukan termasuk bapok. Namun demikian kenaikan sayuran lebih lantaran pasokan yang belum lancar karena terganggu oleh anomali cuaca,” imbuhnya. (HS-06)