Pemdes Wonokerso di Batang Ubah Kotoran Sapi Jadi Energi Alternatif

 

BATANGPOS.COM, BATANG – Pemerintah Desa Wonokerso, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, dengan bantuan Pemprov Jateng, berhasil mengembangkan penggunaan biogas dari kotoran sapi, sebagai energi alternatif bagi warga setempat.

Kepala Desa Wonokerso, Muhamidin, Sabtu (25/6/2022) menuturkan semula pihaknya mengajukan permintaan bantuan dari Pemprov Jateng, untuk kelompok peternak sapi.

“Awalnya pemerintah desa mengajukan bantuan untuk kelompok ternak sapi ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Tapi kemudian ditawari program biogas, yang berada di bawah wewenang Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jateng,” kata dia, seperti dirilis batangkab.go.id.

Program itu sudah diajukan sejak 2020, tapi karena ada pandemi Covid-19, baru terlaksana pada 2022. Adapun Desa Wonokerso terpilih, karena ada 25 peternak sapi di wilayah tersebut.

“Program biogas baru berjalan April 2022 dan pemanfaatan baru efektif setelah Lebaran lalu,” kata dia.

Bantuan yang diberikan pada 2021, berasal dari program biogas swakelola, dengan total anggaran Rp 165.000.000. Bantuan ini digunakan untuk membangun enam unit pengolahan. Adapun hasilnya dinikmati warga di empat desa.

“Pada tahun 2022 pengajuan kembali sebanyak 15 unit, untuk tiga desa, dengan total anggaran Rp 324.000.000,” jelasnya.

Penolakan

Dia juga menutukan, biogas yang dia gagas ini, semula juga peternak dan pemilik sapi.

Mereka mengira penggunaan kotoran sapi untuk biogas, justru akan merugikan. Hal itu karena petani biasanya mengambil kotoran sapi untuk pupuk kandang.

Namun demikian, penolakan tersebut tak membuat dia menyurutkan niat. Sosialisasi pun dilakukan, hingga akhirnya mendapatkan respons positif dari masyarakat.

Dari sosialisasi itu, masyarakat memahami dengan program biogas ini, mereka memperoleh tiga manfaat. Kotoran sapi yang diambil, bukan hanya menghasilkan energi, melainkan juga pupuk cair dan pupuk kandang.

“Biogas dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber alternatif untuk memasak. Selain itu, biogas dapat juga menghasilkan pupuk cair dan pupuk kandang, yang bisa menghasilkan nilai ekonomis,” ungkapnya.

Pembuatan biogas juga dapat memberikan manfaat bagi lingkungan, karena dapat mengurangi bau, serangga, dan patogen yang berasal dari timbunan kotoran sapi yang tadinya dibiarkan.

Dia mengatakan proses penguraian kotoran sapi menjadi gas, dinamakan Anaerobic digesters. Teknologi ini memanfaatkan proses biologis, di mana bahan organik oleh mikroorganisme anaerobik, terurai dalam ruang kedap udara.

“Komponen utama dari energi biogas ini adalah gas metana (CH4) dan karbondioksida (CO2),” terangnya.

Gas metana dapat dibakar atau dioksidasi dan melepaskan energi, sehingga dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.

Besarnya komponen gas tersebut, tergantung pada proses anaerobik dan komposisi dari bahan dasar pembuatan energi biogas.

Semakin besar kandungan metana dari energi biogas, maka akan semakin besar juga energi yang bisa dihasilkan dari biogas tersebut.

“Untuk biaya pembuatan per unit biogas bisa bervariasi tergantung ukuran yang dibuat. Untuk ukuran biogas antara 6 meter kubik hingga 100 meter kubik memerlukan biaya sebesar Rp18.000.000 sampai  Rp200.000.000,” ujar dia.

Ukuran biogas untuk satu rumah tangga memakai ukuran 6 meter kubik hingga 8 meter kubik, setara dua ekor sapi. (HS-08)