Pemkab Blora Studi Tiru Inovasi Penanganan Kemiskinan dan Anak Tidak Sekolah ke Pemkab Pekalongan

 

BATANGPOS.COM, BLORA – Inovasi “Kudu Sekolah” dari Pemkab Pekalongan, diharapkan dapat mendorong anak-anak putus sekolah untuk kembali menempuh pendidikan. Selain itu juga dapat meningkatkan indeks pembangunan manusia (IPM) di wilayah tersebut.

Hal itu disampaikan Wakil Bupati Pekalongan, Riswadi, ketika menerima kunjungan studi tiru Wakil Bupati Blora, Tri Yuli Setyowati bersama jajaran Pemkab Blora, Jumat (3/5/2022) di aula Setda Pekalongan.

Menurut data Badan Pusat Statistik, IPM Kabupaten Pekalongan memang menunjukkan trend peningkatan. Pada 2018, IPM Kabupaten Pekalongan masih pada angka 68,97.

IPM ini meningkat menjadi 69,71 pada 2019, dan 69,63 pada 2020. Menurut Riswadi, IPM Kabupaten Pekalongan pada 2021 mencapai angka 70,11 persen dan untuk 2022 ini ditargetkan mencapai 71,19 persen.

Salah satu upaya untuk mendongkrak IPM ini, adalah melalui program “Kudu Sekolah”, di mana Pemkab mendata dan mengembalikan anak-anak putus sekolah atau tidak sekolah, untuk kembali menempuh pendidikan formal atau nonformal.

Pemkab juga mendata orang dewasa yang tidak bersekolah, untuk kembali menempuh pendidikan.

‘’Ini yang mempengaruhi IPM Kabupaten Pekalongan, yang awalnya sangat rendah, kemudian 70,11 persen di tahun 2021 dan tahun ini ditarget 71,19 persen,” kata Riswadi, seperti dirilis blorakab.go.id.

Selain inovasi “Kudu Sekolah”, Pemkab Pekalongan juga memiliki program laboratorium kemiskinan.

Laboratorium kemiskinan dan “Kudu Sekolah” ini pun, kemudian menjadi inovasi yang mendapat penghargaan dari Pemerintah Pusat.

“Kami pernah mendapatkan penghargaan Innovative Government Award pada 2020, dengan kategori sangat inovatif. Kami juga memperoleh Top 45 inovatif pelayanan publik, pada ajang kompetisi inovasi pelayanan publik (KIPP) tingkat nasional, pada 2020, dengan laboratorium kemiskinan. Juga penghargaan Top 45 kompetisi inovasi pelayanan publik tahun 2021, dengan aplikasi ‘Kudu Sekolah’,” kata Wabup Pekalongan.

Tertarik Belajar

Dalam kesempatan itu, Wakil Bupati Blora, Tri Yuli Setyowati, mengatakan Kabupaten Pekalongan menjadi tempat studi tiru, karena kota batik ini telah meraih sejumlah penghargaan tingkat nasional, di antaranya untuk inovasi laboratorium kemiskinan dan aplikasi “Kudu Sekolah”.

“Kami tertarik untuk belajar ke Kabupaten Pekalongan, karena beberapa inovasi yang dilakukan oleh Pemkab Pekalongan,” terangnya.

Dia mengakui kemiskinan tidak akan bisa dihilangkan. Tetapi tetap harus ada upaya untuk mengurangi, termasuk dengan membuat beragam inovasi.

Tri Yuli juga menyatakan, upaya pengentasan kemiskinan dan memajukan pendidikan, menjadi perhatian serius Pemkab Blora.

Diharapkan dengan studi tiru kali ini, Pemkab Blora bisa meniru inovasi-inovasi yang ada, guna menyelesaikan persoalan kemiskinan.

“Angka kemiskinan di Blora masih tinggi 12,9 persen, apalagi di masa pandemi yang kita tahu banyak yang naik, itu yang menjadi pemikiran kami bagaimana kami di sini ingin belajar inovasi-inovasi keberhasilan di Pemkab Pekalongan, yang sudah dilakukan dan tentunya ilmunya agar dibagi biar kita sama-sama dari Blora bisa menyusul,” kata Tri Yuli. (HS-08).