PMK Bisa Diobati, Dinperpa Kota Pekalongan Minta Peternak Tidak Panik

 

BATANGPOS.COM, PEKALONGAN – Dinas Pertanian dan Pangan (Dinperpa) Kota Pekalongan, meminta peternak di wilayahnya tidak panik, terkait merebaknya penyakit mulut dan Kuku (PMK), yang menyerang hewan ternak, khususnya sapi.

Hal itu disampaikan Kepala Dinperpa Kota Pekalongan, Muadi dalam Rapat Kerja Penanganan Hewan Ternak pada masa PMK, bersama Komisi C DPRD Kota Pekalongan, di Ruang Rapat Komisi C DPRD Kota Pekalongan, Rabu (8/6/2022).

Dia memastikan bahwa Dinperpa, terus berupaya mengendalikan agar penyakit ini tidak makin meluas. PMK juga bukan zoonosis, sehingga tidak menular ke manusia.

Hewan ternak yang terinfeksi pun, masih bisa disembuhkan, asalkan petugas paramedis kesehatan ternak dan peternak telaten dalam mengobati.

“Wabah PMK pada hewan ternak ini, bisa disembuhkan atas kerja keras medik veteriner dan medik serta peternak. Mortality (tingkat kematian-Red) juga sangat kecil. Hanya faktor penularan yang sangat cepat yang perlu kita waspada,” kata Muadi, seperti dirilis pekalongankota.go.id.

Muadi menegaskan, hingga pekan ketiga Mei 2022 penyebaran PMK di Jawa Tengah, Kota Pekalongan masih berada dalam zona hijau. Pada saat yang sama, ada daerah lain yang sudah masuk zona merah.

Tim kesehatan hewan dari Dinperpa Kota Pekalongan, yang terdiri atas dokter hewan, medik veteriner, dan paramedik hewan, telah mendatangi sejumlah sentra penjualan hewan ternak di Kota Pekalongan, salah satunya di Panjang Wetan.

Dari hasil pemeriksaan di wilayah tersebut, ditemukan sampel hewan ternak yang bergejala mirip PMK.

Setelah itu, tim kesehatan hewan Dinperpa langsung berkoordinasi dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi Jawa Tengah dan Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta, untuk dilakukan pemeriksaan PCR.

“Hasilnya keluar tanggal 23 Mei 2022, bahwa dari 40 ekor populasi hewan di situ, 9 dinyatakan positif. Kemudian kami bersama tim kesehatan hewan, berupaya mengobati hingga sembuh dan ternak mau makan. Karena posisinya pada saat itu kandang sapi terkena rob, beberapa ternak lain yang merupakan suspek dipotong paksa,” ujarnya.

Menurutnya, wabah PMK ini bisa disembuhkan, sehingga perlu upaya-upaya yang ditingkatkan dalam segi imunitas dengan pemberian vitamin dan antibiotik serta pemeriksaan kesehatan secara rutin.

Lanjutnya, Muadi menyampaikan apresiasi kepada Komisi C DPRD Kota Pekalongan, yang akan merekomendasikan untuk membantu penambahan anggaran pengobatan hewan ternak.

“Untuk jumlah populasi sapi di Kota Pekalongan per 6 Juni 2022 ada 606 ekor, suspek 41 ekor, potong paksa 21 ekor, mati 3 ekor, dan yang sembuh 39 ekor. Artinya, Kota Pekalongan untuk penanganan PMK sudah berusaha maksimal dan ada harapan. Kami apresiasi terhadap Komisi C DPRD Kota Pekalongan yang telah merekomendasikan untuk mensupport di perubahan anggaran, karena selama ini untuk permintaan pengobatan hewan ternak, kami tangani secara internal dengan pergeseran anggaran,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Kota Pekalongan, Aminuddin Aziz, menjelaskan, dari hasil raker tersebut, ada beberapa kendala yang dihadapi Dinperpa, dalam mengantisipasi penularan PMK pada hewan ternak.

Pemerintah Kota Pekalongan melalui Dinperpa sudah mendatangi simpul-simpul penjual ternak di Kota Pekalongan.

Para peternak mengaku mengalami kerugian dengan adanya PMK ini, terlebih jika hewan-hewan ternak mereka mati.

Namun dari informasi yang disimpulkan, Dinperpa menjamin bahwa daging hewan yang suspek dan positif PMK, masih aman dikonsumsi, asalkan dimasak dengan benar pada suhu lebih dari 70 derajat Celcius.

“Seperti diketahui bersama, kebiasaan masyarakat biasanya merebus daging itu 100 derajat Celcius. Namun, yang perlu diketahui, terkait sosialisasi yang akan disampaikan ke masyarakat oleh Dinperpa menjelang Idul Adha dalam waktu dekat ini, adalah masyarakat diminta untuk tidak menyimpan daging hasil kurban dengan cara dibekukan, karena sangat rawan dan belum ada hasil risetnya bahwa daging yang disimpan dalam suhu dingin tertentu virusnya bisa mati,” beber Aminuddin.

Aminuddin bersama jajaran Komisi C DPRD, akan mencoba datang ke Balai Besar Veteriner Wates terkait hal itu, termasuk simpul-simpul di beberapa penjualan hewan ternak di Kota Pekalongan yang membeli dari luar  daerah, juga penting untuk dimonitor oleh Dinpepa.

Jangan sampai hewan ternak yang dibeli dari luar daerah tiba di Kota Pekalongan tidak terawasi.

“Terkait dengan anggaran pengobatan hewan ternak di Dinperpa yang sudah habis untuk pengadaan vitamin, obat, atau antibiotik pada bulan lalu, kami merekomendasikan kepada Wali Kota, agar diadakan anggaran tersebut, sebab ini akan sangat berbahaya jika tidak disediakan. Pasalnya hewan ternak yang sudah terpapar PMK, jika terlambat ditangani, akan berdampak buruk terhadap kesehatan hewan tersebut,” kata Aminuddin. (HS-08)