Problem Sampah Jelang Tradisi Syawalan Kaliwungu

BATANGPOS.COM, KENDAL – Syawalan merupakan tradisi turun menurun yang dilaksanakan sepekan setelah Idul Fitri, atau saat Lebaran Ketupat pada hari ketujuh bulan Syawal.

Tradisi Syawalan digelar sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT dan menikmati kehidupan dengan lebih baik lagi kedepannya. Untuk pembukaan tradisi Syawalan di Kaliwungu Kendal dijadwalkan pada Sabtu sore (7/4/2022) pukul 15.00 WIB. Sedangkan rangkaian acara yakni, Pembukaan, Semaan Al-Quran, Khataman Al-Quran dan Gema Salawat, yang digelar sejak Sabtu (7/5/2022) hingga Minggu (8/5/2022).

Di Kaliwungu, Syawalan bukan hanya diadakan kegiatan ziarah makam, tetapi ada juga pasar malam. Pasar malam ini seperti pasar yang di mana isinya banyak permainan seperti ombak banyu, komudi putar, kereta api mini kora-kora, sangkar putar dan lain-lain.

Selain itu, di Syawalan Kaliwungu juga dipenuhi para pedagang musiman atau pedagang tiban yang menjual berbagai pernak-pernik mainan dan juga tanaman buatan (sintetis). Tak ayal, hal tersebut membuat volume sampah di kawasan Alun-alun Kaliwungu sejak hari Lebaran hingga Syawalan meningkat dua kali lebih banyak dari hari-hari biasa.

Meningkatnya volume sampah karena adanya pengunjung dari berbagai daerah dan pedagang tiban yang meramaikan tradisi Syawalan Kaliwungu. Salah seorang pedagang kaki lima, Ria berharap, lokasi area tradisi Syawalan harus selalu bersih, sehingga sampah yang sudah menumpuk bisa segera diangkut.

“Kita sudah sepakat dengan pemerintah desa, supaya mengimbau kepada pada pedagang di acara Syawalan untuk ikut menjaga kebersihan kawasan pasar malam. Semuanya, tanpa terkecuali,” ujarnya, Sabtu (7/5/2022).

Menurutnya, dengan banyaknya pedagang tiban, volume sampah menjadi lebih banyak. Namun demikian, petugas tetap jangan sampai terlambat membersihkan sampah yang sudah menumpuk.

“Sampahnya tambah banyak, jadi kalau terlambat diangkut kan baunya terasa. Kita para pedagang juga sepakat agar tiap lapak menjaga kebersihan lingkungan lapaknya masing-masing. Sampahnya dikumpulkan dalam satu wadah biar petugas lebih mudah dan cepat dalam memungutnya nanti,” ungkap Ria.

Tumpukan sampah terpantau melimpah di tempat pengumpulan sampah sementara, yang terdapat di dekat rel Kereta Api Pandean Kaliwungu.

Sebanyak sepuluh petugas pun pada pagi hari sekitar pukul 07.00 sudah mulai mengangangkat sampah ke bak truk pengangkut sampah untuk dibuang di TPA Darupono Kaliwungu Selatan.

Tempat pengumpulan sampah yang berada di tepi jalan raya Pantura itu tampak bersih hanya sampai petang hari. Pasalnya, pada malam hari, sampah-sampah dari pedagang kaki lima mulai dibuang di tempat pengumpulan sampah tersebut.

Begitu pasar malam dimulai, sudah terlihat jumlah sampah bertambah tiap harinya. Memang belum ada catatan jumlah timbulan sampah perhari dari kegiatan tradisi ini. Tapi yang jelas sudah jauh di atas hari-hari biasa.

Budi, sopir truk pengangkut sampah mengaku, pada kondisi normal biasanya hanya mengangkut sampah satu rit per hari. Namun dengan adanya tradisi Syawalan, rata-rata per hari dua rit, akibat meningkatnya volume sampah. “Kalau har-hari biasa itu normalnya satu rit, tetapi mulai ada tradisi Syawalan mengangkut sampah minimal dua rit,” terang Budi.(HS)