Pusat Kesehatan Haji Indonesia Minta Jemaah Berpenyakit Jantung Tak Lontar Jumroh

 

BATANGPOS.COM, SEMARANG – Kepala Pusat Kesehatan Haji, dr Budi Sylvana MARS dengan tegas meminta Tenaga Kesehatan Haji (TKH) Kloter, untuk memperhatikan kondisi kesehatan, khususnya jemaah haji berisiko tinggi (risti) di kloternya masing-masing, terlebih pada periode kritis saat ini.

“Sekali lagi, tolong kepada semua TKH, betul betul perhatikan kesehatan jemaah, terutama yang risiko tinggi Jantung. Mereka tidak boleh kelelahan,” tegas Budi, seperti dirilis sehatnegeriku.kemkes.go.id.

Pengawalan ketat kesehatan jemaah, terlebih di fase Armuzna, sudah juga disampaikan oleh dr Budi di berbagai kesempatan dengan TKH.

Menurutnya ada tiga hal yang harus dilakukan para petugas kesehatan kloter selama Fase Armuzna, yaitu formasi 30 jemaah risti, skrining ketat para jemaah risti, untuk kemudian dapat dipilah mana jemaah risti yang bisa dibadalkan lontarnya, serta gerakan minum air dan makan kurma.

“Kalau perlu badalkan saja lontarnya,” tegasnya lagi.

Selama 12 jam beroperasi, hingga Sabtu (9/7/2022) Pukul 10.00 WAS, Pos Kesehatan Mina setidaknya merawat 18 jamaah haji dengan penyakit jantung. Salah satunya meninggal dunia, saat dalam perjalanan melontar Jumroh.

“Kami merawat 18 jemaah dengan penyakit jantung, sementara satu orang meninggal saat perjalanan lempar jumrah karena kelelahan,” kata Kepala Pos Kesehatan Mina, dr Enny Nuryanti, Sabtu (9/7/2022)

Jarak perjalanan sejauh empat kilometer yang harus ditempuh jemaah untuk melontar Jumrah, berpotensi menimbulkan kelelahan pada Jemaah haji. Sementara secara medis, jemaah yang memiliki riwayat penyakit jantung, tidak boleh kelelahan, tambah dr Enny.

“Menurut keterangan keluarga, almarhum disarankan badal melontar jumroh, tapi memaksakan diri ingin melontar sendiri,” ucap dr Enny.

Dr Budi juga mengingatkan para jemaah, untuk memahami kondisi dan batas tubuhnya masing masing, karena kesehatan dan keselamatan jemaah tetap yang utama.

Untuk itu dr Budi juga meminta agar semua jemaah Indonesia, mau bekerja sama dengan petugas kesehatan, dengan melaksanakan imbauan-imbauan yang ditetapkan.

“Untuk para jemaah, turuti apa kata petugas,” tegasnya lagi.

Disafariwukufkan

Sebelumnya dikabarkan, sebanyak 139 jemaah haji sakit disafariwukufkan. Dari sejumlah tersebut, sebanyak 112 jemaah dalam posisi duduk, sementara 27 jemaah dalam posisi baring.

Jumlah tersebut meliputi pasien dari ruang ranap, IGD, isolasi, intermediate, greenzone, dan psikiatri. Hal ini dipastikan Kepala Pusat Kesehatan Haji, dr Budi Sylvana MARS di Arafah Jumat (8/7/2022).

“Jemaah disafariwukufkan menggunakan 10 bus dan dikawal 4 ambulans. Sudah berangkat dari KKHi jam 12.00 WAS,” lanjut dr Budi.

112 Jemaah yang disafariwukufkan dalam posisi duduk, menggunakan enam bus, sementara 27 jemaah dalam posisi baring, menggunakan empat Bus.

Selama proses safari wukuf, dr. Budi menegaskan bahwa jemaah tetap dalam bus.

Selain proses safari wukuf yang dilakukan oleh KKHI Makkah, terdapat 1 orang pasien yang disafariwukufkan oleh RSAS.

Persiapan pemberangkatan jemaah dan bus telah dimulai sejak jam 5 pagi. Pasien yang bisa mandi sendiri maka mandi sendiri. Jika bisa mandi di kamar mandi dengan pendampingan, maka didampingi. Dan yang tidak bisa, dimandikan oleh perawat di tempat tidurnya masing masing. Setelah itu jemaah dipakaikan baju ihram.

Masing masing bus didampingi oleh dua orang dokter, dua orang perawat, dan tenaga lainnya. Tim safari wukuf berangkat sejak pukul 12.00 dan dijadwalkan kembali dr Arafah jam 17.00 WAS

Setelah Proses safari wukuf selesai, semua jemaah kembali dirawat di KKHI. Seluruh jemaah dikembalikan sesuai nomor bednya. Nama dan nomor bed dikalungkan untuk memudahkan.

Sementara untuk jemaah yang berasal dari kloter, akan dikembalikan setelah kloternya kembali ke hotel. (HS-08)