Sosialisasi Bahaya Gempa Bumi di Klaten, Pakar Geologi ini Sebut Banyak Orang Belanda Jadi Korban

 

BATANGPOS.COM, KLATEN – Masyarakat harus memahami cara meminimalisasi risiko dari bencana gempa bumi. Bahaya utama dari bencana itu adalah karena adanya bangunan yang roboh dan kemudian menimpa manusia.

Hal itu disampaikan pakar geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Eng Ir Didit Hadi Barianto ST MSi, yang juga menjabat sebagai Kepala Stasiun Lapangan Geologi Prof R Soeroso Hadiprawiro di Kecamatan Bayat, dalam sosialisasi potensi ancaman dan mitigasi bencana gempa bumi, Selasa (7/6/2022).

Sosialisasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten ini, digelar di Pendapa Kabupaten Klaten, diikuti secara luring dan daring oleh masyarakat.

Lebih lanjut Didit menjelaskan, gempa bumi berbeda dengan bencana lainnya, seperti erupsi gunung berapi, banjir, atau angin ribut.

Gempa bumi tidak berdampak langsung kepada manusia. Namun demikian bangunan yang roboh akibat peristiwa alam tersebut, dapat membahayakan manusia di bawahnya.

Dia pun kemudian memberi contoh peristiwa gempa Jogja pada 27 Mei 2006, pukul 05.55 WIB. Saar itu rumah dan gedung yang roboh, menyebabkan lebih dari 6.000 orang meninggal dunia.

Banyaknya korban meninggal akibat tertimpa bangunan runtuh ini, juga terjadi pada sejumlah gempa bumi pada masa penjajahan Belanda.

“Pada masa lalu, hanya warga Belanda yang menjadi korban, karena pada masa itu hanya warga Belanda yang mampu membangun rumah dengan dinding batu bata. Sementara pribumi dengan kearifan lokalnya, malah aman dari gempa,” kata dia, seperti dirilis Klatenkab.go.id.

Lebih lanjut Didit juga menjelaskan bahwa sebagian wilayah di kabupaten Klaten rawan akan terjadinya gempa bumi.

Karena itu dia menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat. Warga perlu memiliki pengetahuan, mulai dari proses peristiwa alam itu terjadi dan mengakibatkan bencana, hingga cara hidup berdampingan dengan gempa.

Pengetahuan semacam itu penting, karena sampai saat ini belum ada teknologi, yang dapat memberikan peringatan dini atau early warning System (EWS), mengenai kapan, skala magnitudo, hingga tingkat kerusakan akibat gempa bumi.

“Hingga saat ini belum ada EWS untuk bencana gempa bumi, karena meskipun sudah diketahui zona patahannya, kita tidak bisa memprediksi di mana titik patahnya. Maka dari itu, yang perlu ditekankan adalah bagaimana masyarakat menyikapi bencana ini, sehingga bisa melakukan mitigasi untuk mengurangi risiko,” paparnya.

Sementara itu Kabid Pencegahaan dan Kesiapsiagaan Bencanan BPBD Klaten, Endang Hadiati, mengatakan kegiatan ini diikuti peserta dari berbagai unsur masyarakat.

Menurutnya kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat dalam menghadapi bencana gempa bumi.

“Tujuan utama dari kegiatan ini adalah mengurangi resiko bencana bagi masyarakat dan memberikan pemahaman bencana gempa bumi,” ungkapnya.

Adapun tindak lanjut kegiatan ini yaitu penetapan zonasi daerah rawan gempa di Kabupaten Klaten.

Selain itu menurutnya kegiatan ini juga dimaksudkan sebagai penguatan kapasitas kelembagaan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya dan pemeliharaan kearifan lokal. (HS-08)