Sosialisasi di Klaten, Geolog UGM Sebut Masyarakat Butuh Edukasi Bencana Gempa

 

BATANGPOS.COM – Masuknya Klaten dalam wilayah rawan gempa, menjadikan edukasi terkait bencana alam ini sangat penting. Sehingga diharapkan masyarakat menjadi lebih awas dan meningkatkan kesiapsiagaannya.

Hal tersebut disampaikan ahli geologi UGM, Didit Hadi Barianto, saat menjadi pembicara dalam forum sosialisasi wilayah rawan gempa, yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, Kamis (24/3/2022).

Menurutnya masyarakat harus memahami bencana gempa bumi, mulai dari bagaimana bencana tersebut terjadi, hingga bagaimana hidup berdampingan dengan gempa.

“Banyak negara yang merasakan dampak gempa lebih besar dari pada di Klaten. Namun bisa bersahabat dan berdamai dengan bencana gempa. Yang dilakukan justru memberikan edukasi sebanyak mungkin bagi masyarakat sehingga masyarakat lebih memahami peristiwa gempa terjadi,” kata dia, seperti dirilis Klatenkab.go.id.

Dia menjelaskan hingga saat ini belum ada sistem peringatan dini untuk bencana gempa, bahkan para ahli pun belum bisa memastikan siklus gempa dalam skala besar. Dengan demikian, maka pemahaman terhadap gempa itu sendiri menjadi sangat penting agar masyarakat lebih siap menghadapinya.

“Bencana gempa sudah terjadi sejak dahulu, dan aktivitasnya akan selalu ada. Di era Mataram Kuno, bila terjadi gempa, masyarakat akan berpindah ke lokasi yang lebih aman, namun di era modern tentu tidak bisa dilakukan seperti itu. Yang dibutuhkan adalah masyarakat memahami bencana sehingga menjadi lebih siap menghadapinya,” paparnya.

Didit menambahkan terdapat hal keliru yang dipahami, wilayah patahan atau sesar yang selama ini menjadi lokasi yang sangat dihindari masyarakat. Padahal, keberadaan patahan, tidak langsung berkorelasi dengan kerusakan akibat gempa. Hal ini lantaran dampak dari bencana gempa sangat bervariasi dan tidak dapat diperkirakan wilayah mana saja yang akan terdampak.

“Gempa merupakan bencana bersifat areal dan berhubungan dengan aktivitas seismic, dan keberadaan patahan tidak langsung berkorelasi dengan kerusakan. Mungkin edukasi yang diberikan akan menjadikan sebagian pihak khawatir. Khawatir boleh, karena khawatir akan menjadikan kita lebih awas, tapi jangan sampai pesimis,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris BPBD Klaten, Nur Tjahyo mengatakan kegiatan ini diinisiasi agar masyarakat dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menjadi lebih memahami wilayah rawan gempa bumi di Klaten. Sehingga diharapkan ada langkah antisipasi bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa bumi.

“Tujuannya agar semakin banyak pihak yang memahami tentang bencana gempa bumi dan apa saja yang harus dilakukan jika tinggal di wilayah rawan serta menentukan langkah antisipasi sehingga dampak dari bencana dapat diminimalisasi,” kata dia. (HS-08)