Syawalan Kaliwungu, Mainan Gerabah Masih Jadi Buruan Warga

BATANGPOS.COM, KENDAL – Tradisi Syawalan yang setiap tahun digelar sepekan setelah Idul Fitri, menjadi tujuan ribuan masyarakat dari berbagai daerah untuk berziarah ke makam para wali dan ulama yang ada di Kaliwungu, Kabupaten Kendal.

Ribuan peziarah mendatangi kompleks makam wali dan ulama di Kampung Jabal, Desa Protomulyo, Kecamatan Kaliwungu Selatan, sejak Sabtu (7/5/2022) sore hingga Minggu (8/5/2022).

Ribuan warga tersebut melakukan tahlil dan doa bersama untuk mengharap berkah dan meneladani para wali dan guru dalam menyebarkan agama Islam di Kabupaten Kendal dan sekitar wilayah Pantura.

Ribuan orang datang ziarah ke Kompleks Makam Jabal, dikarenakan sudah dua tahun dilarang diadakannnya tradisi Syawalan akibat pandemi Covid-19.

Selain ziarah, tradisi Syawalan ini juga sebagai wahana, untuk mengenal sejarah perkembangan Islam di Kabupaten Kendal.

Awalnya, tradisi ini hanya kegiatan ziarah bagi keluarga dan keturunan para kiai, wali dan ulama yang dimakamkan di Kaliwungu saja. Namun ramainya keluarga yang berziarah, kemudian diikuti warga sekitar dan akhirnya sekarang peziarah datang dari berbagai daerah serta jadi tradisi tahunan.

Para peziarah memanjatkan doa di Makam KH Asy’ari atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kiai Guru, serta ulama lainnya, seperti Sunan Katong dan Wali Musyafa.

Terpantau, warga rela berjalan dengan jarak sekitar lima kilometer dari pusat Kota Kaliwungu, bahkan mereka pun rela berdesakan dan menunggu giliran untuk bisa masuk ke dalam Komplek Makam Kiai Guru.

Bagi yang tak mau berdesakan, mereka duduk di luar kompleks makam dan di jalanan dengan beralaskan tikar atau koran sembari memanjatkan doa.

Tradisi Syawalan Kaliwungu ini juga menjadi berkah bagi para pedagang musiman (tiban) yang menjajakan berbagai barang dagangan, seperti aneka jajanan, aneka mainan anak-anak, aneka bunga atau kembang hiasan, dan juga pernak-pernik hiasan atau mainan dari bahan gerabah.

Para pedagang berjualan di sekitar area kompleks makam dan di sepanjang Jalan Kaliwungu, hingga membuat kemacetan di jalur Pantura Kota Kaliwungu.

Dari pantauan, dagangan berupa mainan anak-anak dari gerabah sangat diminati pengunjung. Meski mainan jadul, namun masih menjadi buruan para pengunjung acara Syawalan, terutama anak-anak.

Tadinya jumlah pedagang gerabah mainan anak-anak selalu mendominasi lapak pedagang di sekitar Alun-alun Kaliwungu. Jumlahnya puluhan yang tersebar mulai ujung sebelah timur Alun-alun hingga dekat rel kereta api. Namun seiring perkembangan zaman, penjual mainan gerabah tidak lebih dari sepuluh.

Di samping unik, harga mainan yang dijual pun harganya relatif murah. Rata-rata, harga dari Rp 2.500 hingga Rp 3.000 per biji.

Salah seorang pedagang gerabah mainan anak-anak asal Semarang, Tati mengaku, dirinya sudah sejak 26 tahun selalu berjualan di acara Syawalan Kaliwungu.

Diungkapkan, mainan gerabah yang ia jual tersebut, diambil langsung dari pengrajinnya di Mayong, Kabupaten Jepara.

“Meski ini mainan jadul, Alhamdulillah pembelinya lumayan banyak. Mungkin karena sekarang tidak banyak yang jualan mainan gerabah seperti ini,” ungkap Tati, Minggu (8/5/2022).

Sebelumnya, Kepala Desa Protomulyo Kecamatan Kaliwungu Selatan, Jumatno mengatakan, karena sudah dua tahun kegiatan Tradisi Syawalan dihentikan, sehingga membuat ribuan warga kembali memadati Komplek Makam Kiai Guru.

“Ya karena sudah dua tahun tidak diadakan karena pandemi corona, sekarang warga dari berbagai daerah berziarah. Mereka seperti mengobati rasa rindu berziaran di Makam Kiai Guru dan para wali di sana,” ujarnya, Sabtu (7/5/2022).

Jumarno berharap, Syawalan tahun ini berjalan lancar tanpa gangguan sesuatu. Sehingga para peziarah, baik lokal maupun dari luar kota bisa aman dan nyaman.

“Harapan kami semua, Syawalan tahun ini bisa berjalan lancar dan kondusif,” ungkap Jumarno.

Sementara, Panitia Penyelenggara Tradisi Syawalan Kaliwungu, KH Asroi Thohir menambahkan, pihaknya tetap menggandeng Pemerintah Kabupaten Kendal melalui dinas terkait, dalam pelaksanaan Tradisi Syawalan tahun 2022 ini.

“Semua unsur kami libatkan dalam kegiatan tradisi ini, terutama dalam soal pengamanan. Supaya para peziarah dan warga yang berkunjung ke Kaliwungu merasa aman dan nyaman,” ujarnya.(HS)