Terindikasi Penyakit Mulut dan Kuku, Enam Sapi di Sragen Dikarantina

 

BATANGPOS.COM, SRAGEN – Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati, mengecek Pasar Hewan Nglangon, menyusul adanya enam sapi di daerahnya yang terindikasi terjangkit penyakit mulut dan kuku.

Bupati menyebut, dari enam sapi yang diduga terjangkit tersebut, tiga di antaranya di Desa Ngrombo, Kecamatan Plupuh dan tiga lainnya di Desa Slogo, Kecamatan Tanon.

“Hasil laboratorium dari diagnosanya belum turun. Enam sapi ini baru gejala atau suspect. Sudah kami karantina dan menunggu hasil belum bisa kita pastikan,” kata Bupati, seperti dirilis sragenkab.go.id.

Sementara itu ketika mengecek Pasar Hewan Nglangon, Bupati melihat secara langsung, bahwa sapi-sapi yang masuk ke wilayah Sragen sudah  memenuhi standar Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). Petugas juga sudah memeriksa secara fisik hewan-hewan ternak tersebut.

“Kunjungan ini bersamaan dengan hari pasaran hewan Sabtu Pahing. Kami lihat dan cek bersama dan analisa apakah ada indikasi ke arah penyakit mulut dan kuku. Jika ada, kami kirim hasilnya ke Laboratorium. Setelah kami lihat tadi hasilnya tidak ditemukan adanya penyakit mulut dan kuku.” terangnya.

Bupati juga menjelaskan, saat ini upaya untuk pencegahan, di antaranya memberi imbauan kepada peternak, agar tidak menjual hewan ternak yang sedang sakit.

Pihaknya akan memberikan edukasi kepada peternak dengan melakukan sosialisasi tentang penyakit mulut dan kuku.

“Saya instruksikan sampai ke tingkat RT, untuk bisa waspada pada penyakit ini. Jika ditemukan harap lapor dan akan kita treatment dan dikarantina. Jangan dijual walaupun dagingnya  tidak berbahaya jika dikonsumsi oleh manusia,” jelasnya.

Beri Sosialisasi

Sementara itu menurut dokter hewan Anna Margareta dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Sragen, upaya yang telah dilakukan selain melakukan pengawasan di pasar hewan, juga pengawasan dan pengecekan sapi di daerah perbatasan Sragen, melalui Pos Lalu Lintas Ternak Banaran Sragen, bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Pihaknya juga gencar memberikan sosialisasi dan edukasi, khususnya kepada peternak, serta menyebarkan leaflet dan brosur mengenai penyakit mulut dan kuku.

Sebagai tindakan pencegahan pihaknya juga membagikan disinfektan untuk kandang-kandang ternak sapi kelompok maupun ternak rakyat serta penyemprotan disinfektan di kawasan pasar hewan. (HS-08)