Upacara HUT Ke-276 Sragen, Bupati Minta Waspadai Hepatitis Akut dan Penyakit Mulut dan Kuku

 

BATANGPOS.COM, SRAGEN – Pemandangan unik terlihat dalam upacara memperingati HUT Ke-276 Kabupaten Sragen, di Alun-alun Sasana Langen Putra Sragen. Dalam kegiatan itu, semua peserta dan tamu undangan mengenakan pakaian tradisional beskap dan kebaya.

Tidak hanya busana, seluruh rangkaian prosesi upacara pengetan ambal warsa Kabupaten Sragen itu, juga menggunakan bahasa Jawa halus atau kromo inggil, termasuk aba-aba saat baris berbaris.

Upacara dimulai dengan pembacaan sejarah singkat Kabupaten Sragen, oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen, Suwardi.

Dalam amanatnya selaku pembina upacara, Bupati Sragen, Kusdinar Untung Yuni Sukowati, mengajak seluruh aparatur sipil negara (ASN) Sragen, untuk bergotong-royong menghadapi berbagai permasalahan di wilayah tersebut.

Bupati menyebut, saat ini Kabupaten Sragen menghadapi berbagai persoalan, termasuk penyebaran Covid-19 yang belum selesai, kemunculan virus baru hepatitis akut, dan virus penyakit mulut dan kaki yang menyerang ternak sapi, kerbau, dan kambing.

Bupati meminta jajarannya, agar mewaspadai risiko penyebaran penyakit hepatitis akut yang menyerang anak-anak.

“Anak-anak harus membawa makanan yang bersih dan sehat. Anak tidak boleh jajan di sekolah, tetapi membawa bekal dari rumah. Meskipun di Sragen belum ada kasus hepatitis akut, penyakit itu tetap harus diwaspadai. Kewaspadaan juga untuk penyakit ternak, yakni PMK. Semua itu sebenarnya dilakukan dengan menjaga lingkungan yang bersih,” ujarnya.

Dia juga mengajak seluruh elemen masyarakat, untuk bersyukur karena Sragen kembali meraih prestasi opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) sebanyak 7 kali berturut-turut dari Badan Pemeriksa Keuangan.

Upacara berakhir dengan ditandai pasukan khusus pembawa bendera pataka Kabupaten Sragen meninggalkan lokasi upacara. Kemudian dilanjutkan dengan pembagian hadiah bagi pemenang lomba-lomba.

Malam Tirakatan

Sementara itu sebelumnya, Pemkab Sragen juga menggelar malam tirakatan, di Desa Krikilan, Kecamatan Masaran.

Bupati Sragen dalam sambutannya ketika itu mengatakan, Indonesia mulai melewati pandemi Covid-19 menuju endemi. Presiden Jokowi pun sudah mengizinkan seluruh masyarakat untuk tidak memakai masker di luar ruangan.

Namun demikian Kusdinar meminta masyarakat tidak lengah. Bagi warga yang belum memperoleh vaksin Covid-19 dosis ketiga atau booster, diminta untuk datang ke fasilitas kesehatan, demi memperoleh vaksin tersebut.

Semua pihak yang berkaitan dengan peternakan, juga diminta mewaspadai penyakit mulut dan kuku, pada hewan sapi, kambing, dan kerbau. Di Kabupaten Sragen terdapat 30 sapi yang telah terinfeksi penyakit tersebut.

“Penyakit ini tidak menular ke manusia, tetapi sangat menular ke sesama sapi. Sehingga untuk beberapa pasar hewan di daerah sekitar Sragen, seperti Boyolali, Klaten, dan Wonogiri menutup pasar hewan untuk sementara waktu. Karena di sana pun terindikasi ada penyakit penyakit mulut dan kuku pada sapi,” terang Bupati Yuni.

Dalam acara itu dia juga mengatakan, Sragen masih membuka pasar hewan. Hal ini menyebabkan banyak pedagang yang melakukan jual beli di Sragen. Bahkan mereka bukan hanya dari Sragen, melainkan ada pula yang dari Jawa Timur.

Kedatangan sapi-sapi dalam jumlah besar di Pasar Hewan Sumberlawang, diakui Bupati menyebakan pengontrolan menjadi sulit untuk dilakukan. Karena itu selain melakukan pemantauan ketat, pihaknya juga mengkarantina sapi yang terinfeksi.

Karantina sudah dilakukan pada 30 sapi yang terinfeksi dan semuanya diobati.

“Sapi, kambing dan kerbau yang dibawa ke pasar untuk dijual, dapat menyebabkan penularan yang sangat masif kepada sapi-sapi lain,” jelasnya.

Ciri-ciri penyakit tersebut yaitu dari mulutnya terlihat air liur yang berlebihan, luka di sekitar mulut dan kemudian ada luka pada bagian kuku. Ini sudah mengindikasikan bahwa sapi-sapi tersebut sakit. Jadi apabila ada tanda-tanda seperti itu jangan menjual ternaknya maupun memotongnya karena akan berbahaya jika dikonsumsi oleh manusia.

“Kami belum berencana untuk menutup pasar hewan. Akan tetapi kami pantau 2-3 hari ke depan apakah ada tambahan sapi yang sakit semakin banyak, Kemudian jika sapi yang datang dari luar daerah kedapatan tidak membawa surat keterangan sehat bagi hewan yang akan dijual maka saya akan segera mengambil kebijakan untuk melindungi-sapi-sapi yang ada di Kabupaten Sragen,”  tuturnya.

Menjelang Hari Jadi Kabupaten Sragen, Pemkab Srageb juga berziarah ke makam Pangeran Sukowati, makam Butuh, makam Prampalan, dan makam Bupati Sepuh HR Bawono di Desa Duyungan, Kecamatan Sidoharjo. (HS-08)