Walaupun Belum Ada Kasus, Dinkes Blora Tetap Waspadai Hepatitis Akut

 

BATANGPOS.COM, BLORA– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora telah meminta seluruh fasilitas dan tenaga kesehatan di wilayahnya, untuk mewaspadai munculnya kasus hepatitis akut misterius.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blora, Edi Widayat menyampaikan hal tersebut menindaklanjuti Surat Edaran (SE) Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI Nomor HK.02.02/C/2515/2022, tanggal 27 April 2022, perihal Kewaspadaan Terhadap Kasus Hepatitis Akut yang tidak diketahui etiologinya (Acute Hepatitis Of Unknown Aetiology).

Surat Edaran (SE) tersebut kemudian disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah nomor 000/2229 tanggal 6 Mei 2022l ditujukan kepada Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten/Kota se Jawa Tengah yang ditandatangani secara elektronik oleh Sekda Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, SE.MM.

“Hal penting dalam Surat Edaran itu adalah Kewaspadaan Terhadap Penemuan Kasus Hepatitis Akut yang tidak diketahui etiologinya (Acute Hepatitis Of Unknown Aetiology),” terang Edi Widayat, di Blora, Jumat, (6/5/2022), seperti dirilis Blorakab.go.id.

Dia mengatakan kasus hepatitis akut tersebut belum terjadi di Kabupaten Blora. Dia juga berharap kasus semacam itu tak terjadi di wilayah tersebut.

“Untuk di Blora belum ada, dan semoga tidak ada. Sehingga kita sudah meningkatkan kewaspadaan untuk antisipasi,” jelas Edi Widayat.

Dalam SE tersebut disampaikan bahwa Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menerima laporan pada 5 April 2022 dari Inggris Raya, mengenai 10 kasus hepatitis akut yang tidak diketahui etiologinya (penyebabnya), pada anak-anak usia 11 bulan – 5 tahun, pada periode Januari hingga Maret 2022 di Skotlandia Tengah.

WHO kemudian menyatakan peristiwa itu sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh WHO, pada 15 April 2022. Jumlah laporan pun terus bertambah. Pada 21 April 2022, tercatat 169 kasus yang dilaporkan di 12 negara yaitu Inggris (114), Spanyol (13), Israel (12), Amerika Serikat (9),Denmark (6), Irlandia (<5), Belanda (4), Italia (4), Norwegia (2), Perancis (2), Romania (1) dan Belgia(1).

Adapun penderita penyakit tersebut, adalah anak berusia 1 bulan sampai 16 tahun. Dari semua penderita, tujuh belas anak di antaranya (10%) memerlukan transplantasi hati, dan 1 penderita dilaporkan meninggal.

Gejala klinis pada kasus yang teridentifikasi adalah hepatitis akut dengan peningkatan enzim hati, sindrom jaundice akut, dan gejala gastrointestinal (nyeri abdomen, diare dan muntah-muntah). Sebagian besar kasus tidak ditemukan adanya gejala demam.

Disebutkan pula, penyebab dari penyakit tersebut masih belum diketahui. Pemeriksaan laboratorium telah dilakukan, namun tidak ditemukan virus hepatitis tipe A, B, C, D dan E.

Adenovirus terdeteksi pada 74 kasus yang setelah dilakukan tes molekuler, teridentifikasi sebagai F type 41. SARS-CoV-2 ditemukan pada 20 kasus. (HS-08)